Telusuri
24 C
id
  • Redaksi
  • Profil
  • Privacy Policy
Pasundan
  • Beranda
  • Warta
    • Internasional
    • Teknologi
    • Daerah
    • Kabar Desa
  • Olahraga
  • Seni Budaya
    • Musik
    • Sejarah
    • Wisata
    • Kuliner
  • Misteri
  • Pendidikan
  • Opini
  • Komunitas
Telusuri
Beranda fssn foundation kajian ilmiah kaP ketua umum fssn Ki alit pranakarya ngaprak perjalanan spiritual spiritual spiritual journey Kajian Ilmiah dan Spiritual (sufistik), Perjalanan Spiritual
fssn foundation kajian ilmiah kaP ketua umum fssn Ki alit pranakarya ngaprak perjalanan spiritual spiritual spiritual journey

Kajian Ilmiah dan Spiritual (sufistik), Perjalanan Spiritual

Pasundan
Pasundan
14 Des, 2022 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

 



Oleh: ki alit pranakarya

"Sesuatu dikatakan rahasia karena pengetahuan yang kita miliki sangatlah sedikit, dibandingkan Maha luasnya alam semesta dan misteri yang tersembunyi didalamnya. Sepanjang hidup kita belajar tak akan mampu memahami kehidupan ini. 
Semoga Tuhan selalu memberi bimbingan, bantuan dan perlindungan kepada kita semua, karena sumber dari segala sumber kehidupan adalah miliknya. 

Djava Pos - Perjalanan spiritual yang sesungguhnya, adalah meniti setiap detik kehidupan dan terus menerus menumbuhkan kesadaran sehingga kita mengerti akan kasunyatan, kenyataan, tentang diri kita sendiri maupun hidup yang melingkupi kita. 
Perjalanan Spiritual adalah pembersihan hati dan ketenangan jiwa. 
 
Apa sejatinya arti dari perjalanan spiritual? Sederhananya, ini adalah tentang kembalinya sang diri kepada karakter sebagai spirit yang serba murni, jernih, tanpa batas.  
Dalam sudut pandang lain, perjalanan spiritual adalah tentang upaya merealisasikan kesadaran spiritual : dimana kita bisa memandang realitas dengan pengertian dan kebijaksanaan yang mengalir dari esensi diri, spirit, atau sukma sejati kita.  
 
Lebih dari itu, sang diri bisa berkata dan bertindak dalam spontanitas mengikuti gerak yang mengalir dari pusat hati yang menjadi tahta Sang Sukma Sejati.

Buah dari tuntasnya perjalanan spiritual adalah hidup yang serba selaras, terealisasinya Rancangan Agung sebagai manusia, dan dengan nyata sang diri bisa merasakan kesukacitaan dan kedamaian sejati.   

Ini adalah tentang merealisasikan kehidupan surgawi: hidup yang indah karena disadari setiap detiknya merupakan manifestasi dari kasih yang paling murni.

Langkah pertama dari proses menuju ketuntasan perjalanan spiritual adalah menyadari keberadaaan diri sejati, spirit, Sukma Sejati atau roh sebagai realitas Tuhan di dalam diri.  

Laku spiritual adalah upaya penyatuan sepenuhnya dengan Sang Diri Sejati ini.
Penyatuan paripurna hanya terjadi saat diri benar-benar jernih energinya, nalar dan tubuh pengetahuannya, emosinya dan tubuh karnanya.    
Saat kita membiarkan ketidakmurnian diri dalam bentuk apapun, maka sebenarnya kita telah berbelok dari jalan spiritual. 

Pada titik inilah perlunya evaluasi yang akurat, untuk membuat kita mengerti sejauh mana kemurnian jiwa kita, sejauh mana pula tingkat kemenyatuan kita dengan Sang Diri Sejati.  
Perlu ditegaskan, bahwa hanya menjadi tahu tentang terminologi spiritual dan bisa mengungkapkan kata-kata yang terkesan bijaksana, bukanlah indikator kemajuan dalam perjalanan spiritual. 

Ada banyak cara untuk mengevaluasi diri dalam hal kemajuan spiritual.   
Kita tinggal memilih cara yang cocok.  
Seorang guru spiritual yang telah matang pada umumnya punya cara untuk membantu seorang pembelajar mengetahui capaian dirinya, dan membuat mereka tahu ada di jalur yang tepat atau sedang keliru jalan. 

Kemenyatuan paripurna dengan Diri Sejati adalah fondasi untuk fase perjalanan spiritual berikutnya yaitu penyatuan paripurna dengan Sang Hyang Tunggal dan Suwung: realitas Sang Sumber pada tingkatan yang semakin tinggi.  

Spiritual merupakan dasar dan inti kehidupan manusia. Seorang filosof bahkan pernah menyebutkan bahwa manusia bukanlah makhluk dunia yang mengalami kehidupan akhirat (spiritual).  Namun manusia adalah makhluk spiritual yang mengalami kehidupan dunia. 

Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam dan menarik untuk dicermati, bahwa dimensi spiritual pada manusia sangatlah penting (urgen) untuk diperhatikan.

Dimensi spiritual dalam Islam ada dalam ajaran tasawuf, yang pada dasarnya tasawuf adalah bentuk penyucian hati.

Tasawuf atau Sufisme, adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi.

MANUSIA satu-satunya makhluk eksistensialis, yang posisinya fluktuatif, bisa turun-naik martabat dan maqam-nya di sisi Tuhan. 
Karena itu manusia sesung­guhnya selalu melakukan perjalanan spiritual. 
Dalam Al-Qur’an disebutkan: Dan sesungguhnya Kami jadi­kan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan­nya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mere­ka itu sebagai binatang ternak, bahkan mere­ka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S.al-A’raf/7:179). 

Dalam ayat lain dikatakan: "… sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan." (Q.S. al-Najm/53:3-12).

Kedua ayat di atas terdapat isyarat betapa pentingnya manusia melakukan perjalanan spiritual (spiritual journey) guna meningkatkan martabatnya. 
Perlunya anak manusia menem­puh perjalanan suci juga telah diisyaratkan da­lam ayat: Maka apakah mereka tidak mengem­bara di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mer­eka dapat mendengar? Karena sesungguh­nya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Q.S.al- Haj/22:46). 

Lebih tegas lagi disebutkan dalam ayat: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu mengem­baralah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendus­takan (rasul-rasul). (Q.S. Ali ‘Imran/3:137).

 Begitu pentingnya memikirkan perjalan­an spiritual ini maka Allah Swt mengingatkan kita dalam suatu kalimat bertanya: Maka ke manakah kalian akan pergi? Itu tiada lain han­yalah peringatan bagi semesta alam. (Q.S. al- Takwir/81:26-27). 

Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup ini sebuah pengembaraan, yaitu perjalanan untuk kembali ke pangkuannya (Inna lillah wa inna ilaihi raji’un). 
Di dalam me­nempuh pengembaraan hidup ini, di dalam se­tiap pengabdian dalam shalat kita selalu mem­baca ayat dalam surah al-Fatihah, yang wajib dibaca pada setiap rakaat: Ihdinas shirath al-mustaqim, shirath al-ladzina an’amta ‘alaihim, gair al-magdhub 'alaihim waladh dhalin (Tun­jukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat/Q.S. al-Fatihah/1:6-7).

Kalangan ulama ('arifin) membagi jenjang perjalanan spiritual itu kepada beberapa ta­hap atau tingkatan. 

Ibnu ‘Arabi dalam Fush­ush al-Hikam-nya menyebutkan ada tiga tahap pengembaraan spiritual (al-sair al-tsalatsah), yaitu:
- Pengembaraan menuju Allah (al-sair ila Allah)
- Pengembaraan di dalam Allah (al-sair fi Allah)
- Dan pengembaraan dengan Allah ke­pada Allah untuk mencapai kesempurnaan (al-sair bi Allah ila Allah li al-takmil).

Sedangkan Say­id Kamal al-Haidari dalam kitabnya Min al- Khalq ila al-Khalq, Rihalat al-Salik fi Asfarih al-Arba’ah, mengembangkannya menjadi em­pat bagian pengembaraan, yaitu sebelum ke jenjang yang terakhir versi Ibnu ‘Arabi ia me­nambahkan suatu tahap yang disebutnya den­gan: al-taraqqi ila ‘ain al-jam’ wa al-Hadhrah al-Ahadiyyah, yaitu peroses pendakian menu­ju penyatuan dengan wujud Ahadiyyah. 

Perjalanan atau pendakian spiritual membawa pelakunya untuk semakin
mengerti tentang misteri Tuhan dan semesta beserta kehidup-
an di dalamnya. 
Apa yang didapatkan manusia saat menyelami kasunyatan diri dan kasunyatan yang melingkupinya me-
lalui berbagai teknik dzikir dan meditasi akan menggenapi apa yang
bisa diungkap para ilmuwan di berbagai bidang. 

Sementara sains membawa manusia untuk mengurai kasunyatan pada
tataran fisik yang bisa dijangkau pancaindra dan instrumen-
instrumen untuk meluaskan jangkauan pancaindra, spiri-tualitas membawa pada penyaksian berbagai kasunyatan
metafisik Hal yang belum bisa dinyatakan ada oleh pendekatan
sains justru bisa dinyatakan ada lewat pendekatan spiritu-alitas.

Spiritualitas menekankan pendayagunaan rasa dalam diri manusia yang belum dikenal di dunia sains,
Dan inilah yang dalam perbendaharaan spiritualitas la dikenal sebagai rasa sejati. 

Inilah perangkat nonfisik yang
ada di relung jiwa manusia, di ujung pangkal aliran pendakian Spiritual
manusia yang berfungsi untuk mengetahui keberadan dan
kasunyatan melalui sistem deteksi getar.

Kesunyataan, berasal dari kata “Sunnata” (Pali) , “Sunyata” (Sansekerta), yang berarti Jalan Pikiran (konsepsi) yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata manusia, ia hanya dapat ditembus dengan intuisi/pandangan terang dan kata Sunya/Sunna ini memiliki makna pencirian segala sesuatu yang Kosong ( suwung) dari sebuah definisi yang tepat.

Kesunyataan berarti: Kenyataan Mutlak yang tidak tergantung pada waktu dan tempat.
Kenyataan Mutlak ini disebut KESUNYATAAN.

Pejalan spiritual yang mendayagunakan rasa sejatinya dapat memasuki kesadaran spirit atau kesadaran roh. 

Kesadarannya tidak lagi dibatasi hasil kerja otak yang mengolah masukan data dari pancaindra atau instrumen-instrumen perluasan jangkauan pancaindra, seperti mikroskop atau teleskop. Juga melampaui kesadaran hasil kerja otak yang mengungkapkan berbagai model kasunyatan melalui perhitungan matematis.

Dengan kesadaran spirit atau kesadaran roh yang berbasis pada rasa sejati, manusia bisa menyelami kasunyatan jagat raya dalam dimensi yang paling halus. Tergantung pada tingkat kematangan jiwa dan talentanya, kasunyatan jagat raya tersaji bagi para pejalan spiritual dalam beragam
dimensi. 

Maka terungkaplah pernyataan mengenai nyawa, jiwa, dan roh sebagai fenomena mikrokosmos (jagat cilik) selaku buah perjalanan spiritual. Terungkap pula kasunyatan
pada makrokosmos (jagat ageng) yang
berada di alam atas (bawana luhur).
Dan tentu saja, terungkap juga kasunyatan meng Tuhan sebagai sumber dari segala keberadaan Kasunyatan.

Kasunyatan di atas belum bisa sepenuhnya dinyatakan "benar" melalui pendekatan sains. Meskipun demikian, saat ini semakin dimungkinkan terjadinya persinggungan atau keselarasan antara sains dan spiritualitas.

#kaP pribadi percaya tidak ada perbedaan antara sains dan spiritualitas.
Bahwa saat kita belajar astronomi, biologi eologi, fisika, dan kimia, kita pikir itu hanyalah nama yang kita berikan untuk mata pelajaran. Tapi pada akhirnya, kita memahami mekanisme kekuatan yang lebih tinggi.

pekerjaan alam yang tersembunyi, dan kecerdasan yang #kaP percaya mendasari semua pengalaman.
#kaP mencoba memadukan berbagai pengalaman Spiritual dengan temuan
terbaru di bidang genetika dan fisika kuantum.

Sementara itu, berbagai kasunyatan yang dicapai melalui laku spiritual pada umumnya juga berbeda dengan doktrin.  Maka tidak berlebihan jika spiritualitas dinyatakan sebagai ranah penyingkapan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi, Rahasia dibalik rahasia.
Semoga bermanfaat, Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

ki alit pranakarya
Penggagas/ketua umum FSSN foundation (forum silaturahmi spiritual Nusantara)
Pembimbing spiritual (spiritual advisor) 
Guru besar seni pernapasan (bio energi) kumbang Ciremai
Mentor tentang kepemimpinan (leadership) 
Motivator RIESQ
Aktivis sosial, pemerhati lingkungan dan pecinta alam
Konsultasi manajemen dan administrasi perusahaan, konsultan pertanahan, konsultan pertambangan (perijinan) 
Konsultan politik dan ilmu Pemerintahan

Kajian Ilmiah dan Spiritual, "Tahapan dalam Spiritualis"

Spiritualitas sebagai sebuah pencarian personal untuk menjadi berarti, transenden, menyadari keseluruhan jiwa, mencari tujuan, dan memahami spirit sebagai yang menghidupkan esensi pada hidup.

Spiritualitas berasal dari kata ‘spiritus’ yang artinya adalah nafas kehidupan. 
Spirit merupakan kekuatan yang tidak terlihat yang memberikan nafas bagi kehidupan kita, menghidupkan kita, dan memberikan kita energi. 
Spirit membantu kita dalam mendefinisikan kebenaran.

Jadi kesimpulan dari arti spiritualitas adalah kedekatan jiwa dengan sang pencipta.

 Beberapa peneliti Barat menyimpulkan, ada empat tahap pertumbuhan spiritual manusia, sebagai berikut:

- Tahap Pertama: Victim Consciousness.
Kata kuncinya: “Life happens to me” (Hidup terjadi padaku).

- Tahap 2: Manifestation Consciousness.
Kata kuncinya: “I happen to life” (Saya yang membentuk kehidupan) 

- Tahap 3: Chanelling Consciousness. 

Kata kuncinya: “I am a vessel” (saya adalah saluran/wadah).

- Tahap 4: Being Consciousness.

Kata kuncinya: “I am One” (Saya menyatu).

1. Tahap 1: Victim Consciousness

Kata kuncinya: “Life happens to me” Hidup terjadi padaku

Inilah yang saya sebut sebagai ‘mental korban’. Orang yang berada di tahap ini selalu merasa bahwa hal-hal eksternal/ di luar dirinyalah yang mengendalikan nasibnya. Mereka cenderung menyalahkan pihak luar dan tidak melihat ke dalam, bahwa barangkali ada peran mereka juga sehingga sesuatu hal bisa terjadi. Orang seperti ini seringkali malah merasa bangga sebagai pihak yang disakiti, ia merasa ‘cerita sedih’ ini sebagai identifikasi jati dirinya. Hal yang membuat dia spesial dan punya hak untuk marah/ dendam/ melawan/ gagal/ susah move on. Namun biasanya, di saat orang tersebut sudah muak dan lelah untuk terus menerus merasa lelah dan marah pada hidup, ia kemudian membuka dirinya terhadap kemungkinan lain yang selama ini barangkali berada di luar jangkauan pemikirannya. Di saat itulah ia mulai bertumbuh.

Tahap 2: Manifestation Consciousness
Kata kuncinya: “I happen to life” – Saya yang membentuk kehidupan

Di tahap ini seseorang mulai mengambil tanggung jawab. Ia memahami bahwa apapun yang terjadi dalam hidupnya, ada peran dia di dalamnya. Oleh karenanya, ia mulai belajar untuk melepaskan pikiran negatif dan berusaha untuk terus merasa, berpikir, berucap, dan bertindak positif agar demikianlah yang terjadi atau termanifestasi dalam hidupnya. Mereka berusaha untuk hidup berdasarkan kekuatan pikiran, mereka sangat percaya pada apa yang disebut law of attraction. Bagi orang yang berada di tahap ini, slogan mereka adalah “see it in order to achieve it” – lihatlah, maka sesuatu itu akan terjadi padamu.

Tahap 3: Chanelling Consciousness
Kata kuncinya: “I am a vessel” Saya adalah saluran/wadah

Di tahap ini seseorang tidak lagi merasa harus menciptakan berbagai hal agar terjadi dalam hidupnya, ia merasa bahwa ia berada di sini untuk menyambut kedatangan apapun yang perlu hadir agar bisa termanifestasi melalui dirinya dan hidupnya. Karena, pada ruang dan waktu dengan potensi tanpa batas, segala sesuatu sejatinya sudah ada. Mereka hanya menunggu kondisi yang tepat untuk termanifestasi. Kalau di tahap kedua energinya sangat maskulin, di tahap ini energinya lebih feminin. Melihat yang tak terlihat, mendengar yang tak terdengar.

Tahap 4: Being Consciousness

Kata kuncinya: “I am One” – Saya menyatu

Pada tahap ini, seseorang merasa bahwa tidak ada lagi sekat pemisah antara dia dan dunia di sekelilingnya. Hidupnya sudah sempurna apa adanya. Ia merasakan kebersatuan dengan momen saat ini. Ia tidak lagi menyalahkan keadaan (seperti mereka yang berada di tahap 1), tidak lagi berusaha mengendalikan terjadinya sesuatu (seperti mereka yang berada di tahap 2), dan tidak lagi merasa bahwa dirinya terpisah dengan kekuatan alam semesta yang berada di sekitarnya (seperti mereka yang berada di tahap 3). Mereka bersatu dengan kehidupan. Apa yang kamu cari sudah ada di dalammu. Kamu adalah dia yang kamu cari. Kamu dan segala sesuatu adalah satu.

Dalam hidup pada dasarnya kita melewati semua tahapan ini secara bergantian, tahap 1, 2, dan 3. Walaupun seseorang berada di tahap 3, bukan tidak mungkin terkadang ia bisa juga berada di tahap 1 dan 2 ketika sesuatu hal besar terjadi dalam hidupnya, misalnya. Tahap 4 biasanya dialami oleh para makhluk suci dan para guru. Tapi, bukan berarti manusia biasa seperti kita tidak mungkin mencapainya. Seperti kata Sang Buddha, kita semua bisa menjadi Buddha. Di dalam diri kita semua ada hakikat sejati yang sifatnya sama seperti Buddha.

Untuk melihat bagaimana sehari-harinya kita bisa menjalani empat tahap ini sekaligus, mari kita ambil contoh Yesus. Ketika Yesus melakukan penyembuhan dan berbuat berbagai keajaiban, di sana ia sedang mencontohkan tahap spiritual ke-2. Ketika kemudian ia berkata kepada orang-orang yang mau menyalibkan dia: “Bukan saya yang melakukannya, melainkan Bapa lah yang melakukannya.”, dia sedang mencontohkan tahap ke-3. Dan ketika ia berkata bahwa “Aku dan Bapa adalah satu”, ia berada di tahap ke-4.

Begitu juga kita. Saat kita marah besar dan sulit memaafkan karena dikecewakan suami, kita berada di tahap 1. Tapi kemudian kita sadar bahwa dendam tidak menyelesaikan masalah, yang ada hanya membuat kita semakin sengsara. Kita kemudian bertekad untuk hidup lebih baik agar ke depannya suami tambah sayang pada kita dan keluarga kita semakin harmonis – ini tahap kedua. Semakin kita belajar, semakin kita bisa mempraktekkan cinta tanpa syarat dan perasaan ikhlas. Kita menerima semua fenomena yang terjadi pada kita – ini tahap ketiga. Dan kemudian, saat kita sadar bahwa sebenarnya kita, suami, dan semua isi Alam Semesta ini sebenarnya adalah satu, kita merasakan perasaan cinta yang murni dan sangat mendalam – kita berada di tahap keempat. Menarik, kan?

Di bawah ini ada satu puisi indah karya Jalaludin Rumi yang bisa secara luar biasa menjelaskan sekaligus keempat tahapan ini dan bagaimana tiap kita sesungguhnya berevolusi untuk kemudian menyatu dengan sang ketidakberhinggan.

“Ketika saya mengejar apa yang saya pikir saya inginkan,
Hari-hari saya terbakar oleh penderitaan dan kekhawatiran.
Tapi jika saya duduk dalam kesabaran,
apa yang saya butuhkan mengalir kepada saya, dan tanpa sedikitpun rasa sakit.
Dari sini saya mengerti bahwa apa yang saya inginkan juga menginginkan saya,
juga mencari saya dan menarik saya.
Ada rahasia besar dari hal ini
bagi siapa saja yang bisa memahaminya.”
 
Nah, ada di tahap pertumbuhan spiritual manakah kamu? Apa yang kamu rasakan? Apa hal baru yang bisa kamu pelajari dari tulisan kali ini? Coba bagikan ceritamu pada saya di sini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan share tulisan ini kepada semua temanmu. Berbagi itu indah. Biarkan semakin banyak orang terpanggil untuk melihat dirinya semakin mendalam, karena apapun yang kita cari sesungguhnya sudah tersedia. Karena dengan mengenal bahwa sesungguhnya tidak ada sekat di antara kita, kita bisa hidup lebih ikhlas dan damai.

Dari sudut sufistik atau ajaran tasawuf, Sangat erat kaitannya antara manusia dengan spiritualitas karena pada dasarnya manusia diciptakan untuk menyembah kepada Allah. 
Oleh sebab itu untuk bisa mencapai arti hubungan manusia dan spiritualitas kita harus mampu menggabungkan atau menyatukan diri kita dengan spiritualitas. Dengan cara kita melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganya. Dan apabila kita sudah mampu melakukanya, maka kita mencapai spiritualisme, yakni :

1. Memahami dan merasakan keagungan Allah:
Memahami itu dengan akal dan merasakan itu dengan hati. 
Akal dan hati menyatu di dalam makrifat. 
Akibatnya diri merasa amat kecil dihadapan yang maha agung. 
Orang yang cerdas secar spiritualitas adalah orang yang mampu menangkap sinyal keagungan Allah dan mampu merasakan kedhasyatan sifat-sifat-Nya.

2. Memahami dan merasakan keindahan Illahi:
Orang yang cerdas secara spiritual juga mampu merasakan keindahan illahi. Segala sesuatu terlihat indah tak ada kecantikan selain kecantikan Allah.

3. Larut dalam aturan-aturan main yang telah ditetapkan oleh Allah:
Setelah keagungan dan keindhan Illahi didapatkan, maka sang penapak jalan spiritual kemudian terluka mata hatinya, terdengar suara hati nuraninya menyentuh langit- langit jiwanya.

4. Mencapai cinta Illahi:
Akhirnya yang ingin didapatkan oleh orang yang mencapai jalan spiritual adalah cinta Allah.

 Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang mempunyai keinginan dalam dirinya untuk mengetahui dan mengenal tentang kebenaran yang hakiki. Dorongan hati yang tersembunyi  itu bisa saja tidak terlalu menonjol dalam diri seseorang sehingga tidak terlihat di permukaan, tetapi konsepsi spiritual tersebut bisa saja sewaktu-waktu bangkit.

Anggapan tersebut memberikan pedoman dasar yang yang berkaitan dengan dorongan pengetahuan spiritual sufistik yang menggambarkan orang-orang salih minat pada persepsi tentang alam baqa, dan menumbuhkan cinta Allah dalam hati mereka. 

Tarikan yang dirasakan dari dorongan kuat ini, membuat mereka melupakan segalanya, dan memberikan pengaruh dalam hati mereka.  
Tarikan tersebut juga merupakan dasar agama yang melahirkan keimanan kepada Allah. 

Tidak dapat dikatakan menjadi sebuah kesadaran spiritual yang baik, bila keberimanannya tersebut disebabkan pada pengharapannya untuk mendapatkan pujian atau karena ketakutan pada hukuman-Nya semata, bukan karena alasan apapun yang melatarbelakanginya.

Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang paling sempurna, baik dari aspek jasmaniyah lebih-lebih rohaniyahnya .karena kesempurnaanya itulah ,maka untuk dapat memahami, mengenal secara dalam dan totalitas dibutuhka keahlian yang spesifik .

Jika ditinjau dari Alquran, asal usul terbentuknya manusia ada beberapa tahap yaitu:
1. Nutfah
2. Alaqah
3. Mudghah
4. Izam dan Lahm
5. Nasy’ah Khalqan Akhar
6. Nafkhur-Ruh

Spiritual dapat diartikan m sebagai sesuatu yang murni. Diri kita yang sebenarnya adalah roh kita itu. Roh bisa diartikan sebagai energi kehidupan, yang membuat kita dapat hidup, bernapas dan bergerak. Spiritual berarti pula segala sesuatu di luar tubuh fisik kita, termasuk pikiran.
Dalam pencapaian spiritual, dibutuhkan tingkatan-tingkatan yang harus dicapai: Pertama, Maqamat dan Ahwaal. Maqamat adalah jenjang-jenjang atau tahapan-tahapan spiritual. Ahwal atau hal-hal adalah keadaan spiritual yang dialami pesuluk. Kedua, Maaqam Yaqadzah( sadar atau terjaga dari kelengahan spiritual) Dia sadar bahwa dia itu diciptakan oleh Allah, bahwa dia disini untuk menyembah Allah.
Sangat erat kaitannya antara manusia dengan spiritualitas karena pada dasarnya manusia diciptakan untuk menyembah kepada Allah. Oleh sebab itu untuk bisa mencapai arti hubungan manusia dan spiritualitas kita harus mampu menggabungkan atau menyatukan diri kita dengan spiritualitas. Dengan cara kita melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganya. Dan apabila kita sudah mampu melakukanya, maka kita mencapai spiritualisme Islam.

 Salah satu hal yang membuat manusia untuk berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan adalah keyakinan akan adanya kekuatan agung yang menciptakan, mengatur, memelihara serta yang akan melebur semesta beserta isinya ini. 

Disamping itu juga sebagai makhluk yang mempunyai keterbatasan, manusia merasa perlu untuk mencari suatu tempat atau kekuatan untuk berlindung dan bergantung, dan kekuatan itu adalah Tuhan.

Dari keyakinan ini dan dalam usahanya mendekatkan diri dengan Tuhan, mulai tumbuh benih - benih keingin tahuan manusia tentang Tuhan dan kemahakuasaannya serta tentang sang diri sejati. 

Pertanyaan - pertanyaan inilah yang menumbuhkan benih - benih dalam diri seseorang untuk mulai melangkah di jalan spiritual. Dan dimulailah tahapan - tahapan spiritual yang dilakoni oleh manusia untuk mendapatkan jawaban dari berbagai pertanyaanya tersebut.

Orang tua yang memiliki anak yang sudah usia sekolah tentu akan mencarikan dan memasukan anaknya ke sebuah lembaga belajar atau sekolah. 
Demikianpun jika seseorang ingin belajar spiritual tentu ia harus mencari dan menemukan tempat atau guru spiritual yang menurutnya baik dan mumpuni. 

Jadi tahap awal seseorang yang mulai terjun dan melangkah dalam spiritualitas adalah berusaha mencari atau menemukan orang yang bisa membantu dan membimbing mereka. 
Entahkah itu seorang yang dianggap suci ataukah mereka yang memang adalah seorang praktisi spiritual ataukah ikut bergabung dalam sebuah kelompok belajar spiritual.

Tahapan spiritual seseorang hampir sama dengan tahapan tingkat pendidikan di sekolah pada umumnya. Mulai dari Taman Kanak - Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menegah Atas (SMA) dan Universitas atau sekolah tinggi.

Spiritualitas adalah sebuah perjalanan Rohani, Perjalanan kedalam diri, melalui pembersihan hati. Yang entri point'nya adalah pencapai puncak kesadaran Spiritual/Mahrifatullah (Mengenal Allah).

Seseorang yang melatih diri untuk melakukan perjalanan Spiritual secara Istiqomah dan totalitas, secara otomatis akan diberikan hadiah atau Bonus oleh Allah, berupa ketajaman intuisi dan kepekaan batin (rasa) serta kemampuan Supranatural/Metafisika.

Hadiah dan bonus yang diterima pejalan Spiritual bisa saja berbeda-beda. Ada yang diberikan mampu melihat dimensi alam Goib, ada yang peka mendengar suara-suara Goib, ada yang diberikan ketajaman pirasat dan tand-tanda Alam, ada jug yang diberikan kelebihan bisa mengobati orang sakit atas ijin Allah dll.
Akan tetapi Hadiah dan bonus tersebut sesungguhnya bukanlah tujuan utama dari perjalanan Spiritual.
Bonus atau hadiah hanya fase dari perjalanan Spiritual, dan seseorang tak boleh berhenti setelah mendapatkan hadiah atau Bonus tersebut.

Tidak sedikit pejalan Spiritual terjebak pada efouria persimpangan jalan spiritual, setelah mendapatkan bonus atau hadiah, mereka berhenti sampai disitu perjalanan Spiritual nya.
Padahal untuk menuju puncak pencapai dari perjalanan Spiritual masih cukup jauh. Puncak pencapaian Spiritual seorang adalah: Mahrifatullah.

- Pada tahap awal perjalanan spiritual seseorang, ia akan lebih banyak berkecimpung dalam hal ritual kegamaan, dan tata cara sembahyang yang sesuai dengan apa yang mereka ketahui dari turun temurun, ataupun yang diajarkan guru rohaninya. 

Bagaikan anak TK yang lebih banyak diajak bermain, bernyanyi dan kegiatan yang menyenangkan yang dilakukan secara  bersama - sama oleh gurunya. 

Namun mereka hanya melakukan segala kegiatan ritual kegamaan, dan sembahyang tanpa pernah berusaha memahami lebih dalam segala arti dan makna yang terkandung dalam semua kegiatan tersebut. 

Inilah kulit terluar dalam dunia spiritual, penuh ritual dengan berbagai bahasa simbol, cara sembahyang dan berbagai persembahan.

- Ketika beranjak ke tahapan berikutnya, anggaplah tahapan Sekolah Dasar, mereka mulai belajar membaca dan menulis. Tahapan spiritual seseorang dalam tingkatan ini adalah fase dimana mulai tumbuh keinginan untuk mengetahui makna dan arti bahasa simbol dalam ritual, metode sembahyang serta persembahannya. 

Mereka mulai tertarik untuk membaca dan mempelajari ajaran agama, sastra - sastra suci yang berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga mempelajari Agama, membaca sastra suci dll adalah hal yang paling getol mereka lakukan. 
Sedikit - sedikit mengutip ayat  (Kitabullah) dan siloka sastra suci dan menjadikan penguasaannya dalam hal sastra suci sebagai sebuah kebanggaan. Sastra suci bisa saja itu afalah kitab-kitab klasik yang berkaitan dengan Spiritualitas / Tasawuf.

Namun pengetahuan dan pemahamannya hanya sebatas ini betul dan itu salah. Sama halnya ulangan umum tingkat SD, yang hanya perlu memilih betul (B) atau salah (S) dari pilihan jawaban yg telah disediakan. 
Dalam tahapan ini kecenderungan mereka adalah belajar mendiskriminasi antara yang benar dan yang salah, hanya itu. Namun semua harus by the book, sesuai dengan apa yang tercantum dalam buku, sastra suci atau pelajaran yang di ajarkan oleh guru mereka. 

Dalam tahapan inilah peran seorang guru spiritual sangatlah penting. Kesalahan dalam memilih guru rohani yang baik bisa menjadi sebuah hal yang fatal. 

Seseorang yang terlanjur dicekoki dengan berbagai doktrin sempit oleh guru yang tidak baik, bisa tumbuh menjadi seorang spiritualist yang fanatik. Yang  cenderung sulit menerima kebenaran atau pendapat spiritual dari orang lain. Karena mereka cenderung terlalu kukuh, terhadap apa yang sedang mereka pelajari saja dan yang diajarkan oleh guru mereka. 
Baru sedikit yang mereka pelajari tapi mereka “merasa” telah mengetahui banyak hal. 

Namun mereka yang menemukan guru rohani yang baik, fase ini akan menjadi sebuah fondasi dalam kehidupan spiritual seseorang. Sebagian besar orang yang terjun dalam dunia spiritual pernah mengalami fase ego spiritual, namun bimbingan guru rohani yang baik akan membantu seorang murid untuk melewatinya. 

Mereka yang terus berusaha melangkah maju dan bersahabat dengan orang - orang yang baik dan orang - orang yang mampu mendukung kemajuan spiritualnya, akan mampu melewati fase ini dengan mudah. 

- Kemudian tahapan berikutnya, anggaplah tahapan tingkat SMP atau spiritualitas tingkat menengah. 
Dalam sebuah ujian, siswa SMP diharapkan mampu menentukan dan memberikan jawaban yang benar dari pilihan jawaban yang disediakan, yaitu A-B-C-D. Lebih banyak pilihan tentu menjadi sedikit lebih sulit, namun tetap saja semua pilihan jawaban telah disediakan terlebih dahulu.

Sama halnya dengan seorang spiritualist dalam tahapan ini, mereka sudah mampu memilih dan menetukan apa yang terbaik di antara yang baik bagi kemajuan spiritualnya.

Dalam tahapan ini seorang spiritualist, sudah memiliki daya diskriminasi yang lebih baik, hingga mampu menentukan apa yang terbaik diantara yang baik demi kemajuan spiritualnya. 

Mereka mulai menghindari apa yang tidak baik atau yang bisa menghambat kemajuan rohaninya, baik dalam pergaulan maupun dalam hal makanan. 

Namun terkadang dalam tahapan ini, ada kecenderungan masih ada ego kedirian atau praktek rohaninyalah yang terbaik, sehingga sering kali memandang sebelah mata perjalanan rohani orang lain. 

Mereka pun belum mampu melihat kebenaran dalam berbagai keyakinan yang berbeda. Bagaikan memilih jawaban A-B-C-D, mereka hanya memilih satu dan menganggap yang lain adalah salah. Namun dalam tahapan berikutnya mereka akan mulai menyadari bahwasanya ada banyak jalan mencapai Tuhan.

- Berikutnya adalah tingkat SMA, tingkat menengah atas, seorang spiritualist dalam tingkatan ini sudah mampu menemukan sendiri berbagai jawaban-jawaban yang menjadi pertanyaan-pertanyaan dalam perjalanan spirtualnya. 

Mereka menemukannya sendiri melalui berbagai pembelajaran yang ia terima dari guru rohaninya (Mursyid). 
Dalam tahapan ini ia betul-betul telah memiliki pengetahuan rohani yang mumpuni.

Bagaikan dalam sebuah ujian, jawaban yg diminta bukan lagi memilih benar atau salah, atau pilihan A-B-C-D dari jawaban yg telah disediakan. 
Tapi jawaban yg diminta adalah jawaban essay, dari pengetahuan dan pemahaman siswa itu sendiri. 
Sehingga para siswa SMA harus sangat tekun dalam kegiatan belajarnya.

Demikanpun  seorang spiritualist dalam tahapan ini, ia benar-benar tekun dan tenggelam dalam sadana rohani dan usaha meningkatkan pengetahuan rohaninya dalam setiap waktu.

Seorang spiritualist yang berada dalam tingkatan ini, tingkat menengah atas, mereka telah memiliki pemahaman bahwa setiap langkah yang dilakukan seseorang dalam upayanya mendekatkan diri dengan Tuhan adalah suatu hal yang harus didukung dan dihargai. 

Tidak ada jalan yang salah bagi seseorang yang tengah berusaha menapak jalan spiritualitas, bagaimanapun jalan dan cara yang ia tempuh. Yang menjadi perhatian mereka hanyalah kualitas dari pelaksanaannya saja. Mereka yang berada dalam tahap atau tingkat ini sangat menghormati orang-orang yang tengah berusaha maju dalam praktek spiritualnya, sekecil apapun langkah mereka. Mereka betul - betul telah mempunyai kesadaran diri bahwa ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai Tuhan.

- Tahapan selanjutnya adalah tingkat Universitas atau spiritualitas yang boleh dikatakan tingkat tinggi. Sebagai sebuah syarat kelulusan, seorang mahasiswa atau mahasiswi diwajibkan untuk menulis sebuah karya ilmiah atau skripsi, yaitu sebuah paparan ilmiah dari hasil sebuah penelitian. 

Skripsi ini dibuat berdasarkan praktek kerja lapangan dan penelitian langsung yang  mereka lakukan. Kemudian dari penelitian inilah mereka akan menuliskan skripsi yaitu sebuah karya tulis ilmiah berupa paparan hasil penelitian. 

Mahasiswa yang mampu menulis skripsi dianggap mampu memadukan pengetahuan dan keterampilannya dalam memahami, menganalisis, menggambarkan, dan menjelaskan masalah yang berhubungan dengan bidang keilmuan yang diambilnya. 

Demikianpun seorang spiritualist yang berada dalam tahapan ini. Mereka telah menemukan dan mencapai kesadaran rohani, melalui penelitian dan penggalian langsung kedalam diri serta melalui berbagai pengalaman rohani. 
Mereka yg berada dalam tahapan ini adalah mereka yang telah mengalami kesadaran spiritual, mendapatkan pencerahan dan mengalami Tuhan secara pribadi. Bagaikan seorang pendaki gunung, mereka telah mencapai puncak gunung kesadaran. Dimana kesadarannya telah menyatu dengan kesadaran semesta.

Seseorang yang telah lulus Universitas atau sekolah tinggi, ambilah contoh seorang sarjana keguruan, maka ia pantas mengajar dalam sebuah sekolah, entah itu di SD, SMP atau SMA. 

Demikianpun mereka yang telah mencapai puncak kesadaran rohaninya, sangat pantas menjadi seorang Guru Spiritual. Seorang guru yang akan mampu membawa muridnya mencapai apa yang telah ia capai, yaitu kesadaran rohani, pencerahan dan mengalami Tuhan secara langsung.

Semua tahapan diatas akan dilalui oleh mereka yang terjun dalam dunia perjalanan spiritual. Mungkin yang akan  membedakan hanyalah waktu tempuh yang diperlukan masing - masing individu. Ada yang cepat ada yang agak lambat, atau mungkin ada yang tidak naik kelas hingga butuh waktu yang lebih lama. Sehingga dalam tahapan manapun seseorang berada, baik TK, SD, SMP, SMA maupun Universitas hendaknya senantiasa dihormati dan dihargai. 

Bagaikan anak tangga, kita tidak akan langsung masuk SD tanpa masuk TK terlebih dahulu. Kita tidak akan masuk SMP tanpa lulus SD terlebih dahulu dan begitu seterusnya. 

Pemahaman rohani setiap orang mungkin berbeda dan semua perbedaan tersebut harus dihormati dan dihargai. Jika memiliki pengetahuan dan pemahaman rohani yang lebih baik, saatnya berbagi ilmu dan pengalaman dengan yang lain. Jika merasa kurang mari belajar dari yang lebih, dengan pikiran yang terbuka dan kesiapan menerima pengetahuan dari orang lain. 

Mereka yang senantiasa belajar adalah orang yang cerdas karena hidup adalah belajar dan belajar itu hidup. Jangan pernah merasa mengetahui segala hal, karena keterbatasan manusia, tidak ada manusia yang pintar dalam segala hal. 

Mari saling berbagi dan mengisi diri dengan pengetahuan, niscaya kita akan sampai pada tujuan dengan lebih cepat, aman dan selamat.

Tasawuf sebagai jalan, meliputi latihan batin yang kemudian dimanifestasikan dengan perbuatan lahir (akhlaq yang baik/ahlaqul karimah), terus menerus berlatih sebagai bentuk penjagaan, karena meski telah bisa melewati tahapan-tahapan agar ahlaq menjadi baik, tidak tertutup kemungkinan bisa terjerumus kembali ke dalam kesalahan sehingga melakukan akhlaq tercela/akhlaqul madzmumah. 

Untuk menempuh latihan agar bisa berakhlaq yang baik, serta dapat terus menjaga kontinuitas (istiqomah) kebaikan akhlaq , setidaknya ditempuh dengan 3 tahapan, yakni :

1.Takholli:
Takholli adalah Proses Pembersihan diri dari segala kekotoran batiniyah dan penyakit hati yang membuat kesalahan langkah dalam sikap lahir. 

Jangan heran apabila ada orang yang sering beribadah tetapi korupsi di kantornya, atau orang yang rajin ke pengajian tetapi nilai-nilai kebaikan yang diajarkan tidak berbekas dalam perbuatan. 

Ini karena hati/batin tidak terlebih dahulu dikosongkan dari kotoran dan penyakit. Ada pun Kegiatan Takholli ini meliputi :

A. Taubat
Selayaknya manusia tanpa kecuali pernah melakukan kesalahan, bahkan para Nabi dan Rasul pun pernah salah, akan tetapi tingkatan kesalahannya tentu lain antara Nabi dan Rasul, Ulama, serta orang awam.Bagi para Nabi dan Rasul tentu kesalahan sekali saja langsung mendapat teguran dan merasa menyesal untuk waktu yang lama, sebagai contoh : Nabi Adam yang harus terusir dari surga hanya gara-gara satu kali melanggar larangan memakan buah Khuldi. 

Ulama yang baik dan mengerti akan ilmunya, bila mana berbuat salah tentu akan langsung bertobat dan menyesal. Sedangkan orang awam terkadang berkali-kali salah, bertobat, dan tak jarang melakukan kesalahan lagi.

Karena itu bagi yang ingin menempuh jalan tasawuf (setelah cukup ilmu syariat tentunya), terlebih dahulu harus bertobat atas semua kesalahan yang telah dilakukannya dan berniat dalam hati untuk tidak akan mengulang kembali kesalahan yang pernah diperbuat.

B. Waro
Waro adalah sikap kehati-hatian (sesuai Quran dan Sunnah) dalam berpikir, merasa, berucap, dan bertindak, agar jauh dari kesalahan (dosa). 
Pokok dari sikap waro adalah meninggalkan hal yang makruh, serta menjauhi hal-hal yang syubhat (belum jelas duduk perkaranya, antara boleh/tidak boleh, atau antara haram/halal)

C. Zuhud
Sikap waro (kehati-hatian) akan melahirkan Zuhud, yakni sikap hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan meskipun terhadap hal-hal atau barang yang halal sekali pun. 

Hakikat zuhud terletak pada pengakuan tidak merasa memiliki, baik itu terhadap harta-bendanya, waktunya, umurnya, bahkan dirinya sendiri, melainkan merasa bahwa semua itu semata-mata hanya titipan Alloh yang harus dijaga karena akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. 

Orang yang zuhud tidak terikat kepada duniawi, dalam arti tidak terlalu sedih atas apa yang luput dari genggaman tangan, juga tidak gembira berlebihan atas anugerah dari Alloh kepadanya. 

Sebagaimana terucap dalam do’a iftitah yang dibaca dalam shalat : “Inna Sholaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaatii, lillahi Robbil ‘alamiin” artinya : “sesungguhnya aku makhluk bisa melakukan shalat, dan bisa beribadah, juga bisa hidup, serta pasti akan mati, semua itu mutlak anugerah dari-Nya dan kepunyaan-Nya Tuhan Semesta Alam.

Buah dari Takholli (melalui proses taubat, waro, dan zuhud), adalah sifat Khouf (takut) kepada Alloh, sehingga segala ibadah dan amal baik yang dilakukan tidak karena manusia atau makhluk, melainkan tertuju sebagai bentuk penyembahan terhadap Sang Pencipta, Alloh S.W.T.

2.Tahalli:
Setelah sukses melakukan proses takholli, berupa pembersihan diri dari segala kotoran batin dan penyakit hati, maka batin/hati yang tadinya kotor dan berpenyakit oleh sifat-sifat tercela semisal : emosional, dendam, berburuk sangka, dll., namun setelah takholli maka hati menjadi bersih, sehingga ruang hati bisa diisi dan dihiasi dengan sifat –sifat terpuji, semisal : pema’af, rendah hati, dermawan, dll. Jadi proses tahalli adalah proses menghias hati dengan sifat-sifat yang baik, sebagai lanjutan dari takholli.

Kegiatan Tahalli antara lain :

A.Tawakal
Tawakal adalah sikap kepasrahan kepada Alloh, yakin dan percaya kepada ketentuan-Nya yang pasti berlaku, baik manusia menerima atau menolaknya. 

Orang yang tawakal apabila menyimak suatu kejadian, tidak semata-mata menyandarkan kejadian tersebut sebagai suatu kebetulan, atau faktor sebab-akibat, melainkan meyakini bahwa kejadian tersebut mutlak ketentuan Alloh.

B.Ridho 
Ridho adalah menerima ketentuan Alloh tanpa protes atau mengeluh, melainkan menyadari bahwa apa yang terjadi, sepahit apa pun, merupakan halyang terbaik bagi dirinya yang Alloh berikan, sebab terkadang manusia menyukai sesuatu, padahal itu berbahaya bagi dirinya sedangkan ia tidak mengetahuinya, atau manusia terkadang membenci/tidak menyukai sesuatu, padahal di balik itu terkandung banyak kebaikan sedangkan ia tidak tahu.

C.Syukur
Sikap ridho akan melahirkan syukur, yakni rasa terima kasih kepada Alloh yang diwujudkan dengan peningkatan Ibadah dan amal baik. 
Semua anugerah Alloh tanpa kecuali, baik besar maupun kecil disyukuri, bahkan tidak hanya nikmat yang disyukuri, kepahitan pun diterima sebagai anugera dan disyukuri pula. 

Sebagaimana ibn Athoillah dalam Kitab Al Hikam menyatakan : “Alloh telah menjamin kebutuhanmu sesuai dengan kehendak dan pilihan Alloh, bukan berdasarkan kehendak atau pilihanmu”.Misalnya seseorang sebut saja kang Urip ingin segera menikah dan memohon kepada Alloh agar Siti yang cantik menjadi isterinya, tetapi ternyata Alloh mengabulkan do’a kang Urip dengan bentuk lain, yakni kang urip mendapat jodoh Tika yang wajahnya biasa-biasa saja. 

Jika kang urip mengetahui bahwa Siti yang dia idam-idamkan itu punya tabi’at buruk, sedangkan Tika yang tadinya tidak ia harapkan malah menjadi istrinya adalah orang yang setia dan baik hati, tentu ia akan bersyukur karena tidak jadi berjodoh dengan Siti.

Tahalli, kegiatan menghias diri melalui proses Tawakal, Ridho, dan Syukur, akan membuahkan sikap Roja (optimis) kepada Alloh. 

Tidak mengeluh berkepanjangan atas musibah atau tidak mendapat apa yang diinginkan, juga tidak berbangga hati atas anugerah Alloh, melainkan senantiasa berbaik sangka terhadap Alloh, sebagaimana bunyi Hadits Riwayat Bukhori :“Aku menuruti prasangka hamba terhadapKu, jika Ia berprasangka baik terhadapKu, maka baginya kebaikan, maka jangan berprasangka terhadap Allah kecuali kebaikan”.

3.Tajalli:
“Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”. (Surat Al-Baqarah, 115)

Diri yang telah dipenuhi oleh sifat-sifat terpuji dan senantiasa berbaik sangka kepada Alloh atas segala ketentuan-Nya terhadap manusia, maka akan beroleh “Tajalli” (penyaksian), menyaksikan kebesaran Alloh dan mengakui kehadiran-Nya pada segala apa yang terlihat, teraba, dan terasa. Dapat melihat “tangan” Tuhan pada setiap fenomena yang terjadi.

Bila menyimak kejadian gempa misalnya, tidak hanya berpikir tentang proses alam pergeseran di bawah kerak bumi yang mengakibatkan goncangan ke atas tanah tempat kita berpijak, melainkan memikirkan pula, ada peringatan apa dari Alloh atas kejadian gempa tersebut.

Dari Abu Hurairah berkata, “Nabi S.A.W. bersabda, ‘Tidak akan tiba hari kiamat sehingga ilmu pengetahuan (agama) dilenyapkan, banyak gempa bumi, masa saling berdekatan (semakin singkat), banyak timbul fitnah, banyak huru-hara yaitu pembunuhan, hingga harta benda melimpah ruah di antara kamu.” (H.R. Bukhori-Muslim dan Abu dawud)

Tanda – tanda seseorang sudah sampai padatingkat Tajalli adalah :

A.Mahabbah
Mahabbah adalah kecintaan, cinta pada siapa? Cinta kepada Penciptanya, yakni Alloh S.W.T. Orang yang telah dipenuhi oleh kecintaan kepada Tuhan, maka pola kehidupannya akan menuruti panduan yang telah ditunjukkan Alloh melalui risalah yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad S.A.W., selain itu mencintai makhluk-Nya tanpa kecuali. 

Namun ketika mencintai makhluk, bukan artinya tidak boleh membenci, tetapi ketika harus membenci pun, dasarnya adalah rasa cinta. 
Sebagai contoh : jika anak anda nakal dan tidak menurut kepada anda, tentu anda akan marah, tetapi kemarahan anda tersebut merupakan wujud tanda sayang dan cinta anda terhadap buah hati, sekaligus anda membenci perbuatan kenakalan dari anak anda tersebut.

Singkatnya mencintai atau pun membenci seseorang, dasarnya karena kecintaannya kepada Alloh semata-mata. Orang yang mencintai sesuatu, niscaya akan menuruti apa kata yang dicintainya itu. Begitu pun jika telah mencintai Alloh sepenuhnya, maka dalam hal harus mencintai atau membenci pun, panduannya adalah perintah Alloh S.W.T.

B.Thuma,ninah
Thuma’ninah berarti tenang, dalam kehidupannya tidak tergesa-gesa atau terburu-buru, senantiasa mendahulukan apa yang harus didahulukan, dan mengakhirkan apa yang seharusnya diakhirkan, yang kesemuanya dilakukan dengan ketentraman batin, tanpa paksaan atau dibuat-buat.

C.Makrifatulloh
Makrifatulloh ialah melihat sesuatu dengan mengingat sumbernya. Jika melihat air sungai yang kotor, bau, dan berwarna kehitaman, tidak langsung menyalahkan air sungai yang telah keruh itu, melainkan melihat kepada asalnya air tersebut yang tadinya berasal dari sumber air pegunungan yang jernih dan sehat, akan tetapi perjalanan air jua lah yang oleh berbagai sebab telah membuat air terkontaminasi sehingga menjadi kotor dan berbau, serta mengingat jangan-jangan kita ikut andil mengotori air sungai tersebut dengan membuang sampah ke sungai misalnya.

Begitu pun saat melihat keburukan pada diri orang lain yang mungkin merugikan bagi diri orang yang telah makrifat, maka hal itu dipandang mungkin sebagai ujian atau bahkan teguran dariYang Maha Kuasa, sebab pada dasarnya orang yang berperilaku buruk dan merugikan itu, asalnya adalah manusia yang fitrah dan suci, namun mungkin perjalanan hidup yang membuat ia terkontaminasi,

Serta apabila mendapat musibah, maka orang yang telah makrifat diberikan kekuatan dan daya tahan untuk dapat menerima kesulitan itu dengan mengingat : “Inna lillahii wa inna ilaihi roji’uun”, sesungguhnya bagi diri kami, segala apa yang menimpa, segala apa yang dititipkan kepada kami, adalah berasal dari Alloh dan mutlak kepunyaan-Nya, serta segala sesuatu urusan makhluk akan kembali lagi kepada-Nya

Hikmah Menjalani Tasawuf :
- Mendasarkan perilaku bukan kepada apa yang terbaik menurut penilaian orang lain sesama manusia, melainkan mendasarkannya atas keridhoan Alloh. 

Jika menurut manusia tidak baik, tetapi baik menurut pandangan Alloh, maka akan menuruti pandangan Alloh. Misalnya jika mempunyai kesempatan untuk menduduki suatu jabatan yang bisa menaikkan harkat dan derajat dirinya di mata manusia, namun mengingat lingkungan pada jabatan tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang korup, sehingga dikhawatirkan akan terjerumus, maka lebih baik mencari jalan selamat dengan menolakjabatan tersebut.

- Memperoleh kebenaran hakiki dan dapat berpaling dari kepalsuan duniawi. Wajah yang cantik bisa menipu, karena perilakunya mungkin saja buruk tidak secantik wajahnya. 

Harta yang banyak bisa saja menipu orang yang memiliki banyak harta tersebut, sehingga menjadi sombong menganggap dirinya lebih dari orang lain, padahal harta semata-mata hanya titipan Alloh yang bisa diambil kembali kapan pun bila Alloh menghendaki. Ibadah yang dilakukan dan merasakan ketenangan dengan ibadah bisa saja menipu, misalnya berkali-kali menunaikan ibadah haji karena merasakan ketenangan batin saat berada di Baitulloh, tetapi menafikan saudara dekat atau tetangganya yang lebih membutuhkan uluran tangan bantuan.

- Mendahulukan Alloh dan memalingkan diri dari selain-Nya, sehingga Alloh pun akan mendahulukannya. Dalam setiap gerak langkah, tiada luput dari mengingat Alloh, dan untuk setiap perkara selalu mempertanyakan apakah kiranya jika melakukan/tidak melakukan sesuatu perkara apakah Alloh ridho terhadapnya atau tidak.

- Dapat meniru sifat Alloh yang Maha, diterapkan sebisanya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh : bila Alloh mempunyai sifat Maha Pengasih, maka ditiru sifat pengasih itu oleh manusia yang telah dicerahkan tasawuf untuk mengasihi sesamanya yang membutuhkan tanpa melihat latar belakang orang yang membutuhkan itu, apakah dia satu keyakinan, atau tidak, akan senantiasa menebarkan Cinta Kasih pada setiap insan.
"Jika engkau bukan saudara dalam Se Iman, engkau adapah saudara dalam kemanusuaan".

Untuk bisa mencapai tahapan-tahapan ini, carilah guru/Musyid atau pembimbing. Yang akan menuntun kita melalui metode Dzikir, Suluk dll.

Wassalamu'alaikum.Wr.Wb.

Via fssn foundation
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Tentang Kami

Foto saya
Pasundan
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Tetap Terhubung

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Fanpage Kami

Artikel Unggulan

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

Pasundan- September 07, 2026 0
10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes
Sukabumi, Pasundan - Kepala Desa Makasari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Rina Nuraeni, S.ST., M.Kes turun langsung menyerahkan bantuan Alat P…

Populer

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

September 07, 2026
Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

September 05, 2026
Nuansa Merah Putih, Perlombaan Agustusan Ramaikan HUT RI ke-81 di Desa Ciawi

Nuansa Merah Putih, Perlombaan Agustusan Ramaikan HUT RI ke-81 di Desa Ciawi

Agustus 17, 2026

Komentar

Follow Us On Instagram @pakuanpos

Posting Editor

Gunungan Diciptakan Oleh Sunan Kalijaga pada Tahun 1443 Saka

Gunungan Diciptakan Oleh Sunan Kalijaga pada Tahun 1443 Saka

Desember 11, 2020
Ruwatan atau Ngaruat dalam Bahasa Sunda, Kebiasaan yang Bermakna sangat Dalam

Ruwatan atau Ngaruat dalam Bahasa Sunda, Kebiasaan yang Bermakna sangat Dalam

April 11, 2021
Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor

Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor

Desember 15, 2020

Populer

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

September 07, 2026
Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

September 05, 2026
Nuansa Merah Putih, Perlombaan Agustusan Ramaikan HUT RI ke-81 di Desa Ciawi

Nuansa Merah Putih, Perlombaan Agustusan Ramaikan HUT RI ke-81 di Desa Ciawi

Agustus 17, 2026
00:00:00
Memuat tanggal...
Pasundan

Tentang Kami

Mengabarkan kebenaran dengan hati, menyorot fakta dengan nalar. Independen, jujur, dan setia pada pembaca.

Contact us: pasundanbogorkota@gmail.com

Follow Kami

© Pasundan by Xevdesign
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us