biografi
KH Sholeh Iskandar
Mayor TNI AD
pahlawan
pejuang Bogor
sejarah
Ulama
Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor
Djava pos - Menyebut nama KH Sholeh Iskandar, bagi warga Kota Bogor umumnya lebih mengenalnya sebagai nama jalan. Padahal, pria kelahiran Pasarean, Cibungbulang, 22 Juni 1922 itu memiliki peran besar saat perjuangan melawan penjajah, juga aktif melakukan dakwah agama Islam. Mayor TNI AD Sholeh Iskandar memang lebih dikenal sebagai kiai haji dibanding veteran pejuang.
Saat ini, ada peninggalannya di Jalan K.H. Sholeh Iskandar yakni Universitas Ibnu Khaldun. Kampus tersebut ia dirikan 23 April 1961 silam. Dihimpun dari sejumlah sumber, perjalanan hidupnya, dilalui dengan memanggul senjata, juga berdakwah. Dalam biografi Jejak Perjuangan Ulama-Patriot K.H. Sholeh Iskandar, Lukman Hakiem mencatat Sholeh Iskandar lahir di Kampung Gunung Handeleum, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, 22 Juni 1922.
Ia lahir dan besar di lingkungan dengan tradisi agama yang cukup kuat. Setelah menamatkan sekolah rakyat di Bogor, Sholeh Iskandar nyantri di Pondok Pesantren Cengkudu, Kabupaten Serang, dan Ponpes Cantayan, Sukabumi. Sebagai santri, Sholeh tak cuma mendalami ilmu agama. Sebagaimana kelompok santri lainnya pada masa revolusi, ia juga ikut terlibat aktif dalam mendorong kemerdekaan Indonesia dari para penjajah dengan berbagai cara.
Tak terkecuali dengan melibatkan diri dalam perang fisik. Persentuhan awalnya dengan dunia kemiliteran terjadi saat ia nyantri di Ponpes Cantayan. Ia pertama kali melakukan latihan militer intensif saat bergabung dalam Barisan Islam Indonesia (BII). BII yang dibentuk 1939 merupakan anak organisasai dari Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII).
Agar perjuangannya terorganisir, Sholeh mendirikan sebuah koperasi bersama sejumlah kawan patriotik lain. Pergolakan akibat praktik penghisapan tuan tanah partikelir terhadap petani cukup sering terjadi kala itu, sehingga latihan militer yang dilakukan bisa dibaca sebagai ajang persiapan dalam menghadapi letupan-letupan horizontal.
Satu dari sekian banyak laskar di Bogor adalah Laskar Rakyat Markas Perjuangan Rakyat Leuwiliang (MPRL) yang dikomandoi oleh Mayor Sholeh Iskandar. Laskar MPRL dan Batalyon Hizbullah berganti nama menjadi Batalyon IV dan kemudian menjadi Bataylon O, Tirtayasa, Siliwangi.
Di laskar inilah peran Mayor Sholeh Iskandar mencuat. Di bawah pimpinannya, Batalyon O, mengawal pemerintah RI Bogor yang terpaksa mengungsi ke Desa Jasinga, kemudian ke Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, yang jaraknya sekitar 50 kilometer.
Pada waktu itu, Kota Bogor dikuasai oleh pemerintah Negara Pasundan, yakni negara boneka yang dibentuk pada masa pemerintahan kolonial. Batalyon O kemudian bertugas melindungi dan membangun organisasi pemerintahan Republik bersama R. Ipik Gandanama yang ditunjuk sebagai Bupati Bogor RI pada 1948.
Meski demikian banyak jasanya, tidak banyak orang yang mengenal kehebatan Sholeh Iskandar saat saat memimpin Batalyon O. Musababnya, Sholeh Iskandar mengundurkan diri dari TNI karena merasa perjuangannya di militer sudah usai.
Usai tak lagi sebagai tentara, Sholeh tak berpangku tangan. Bersama para ulama lainnya, ia bergerak mengurusi dakwah dan bidang pendidikan. Sholeh Iskandar menjadi salah seorang pendiri Legiun Veteran RI (LVRI) pada 1957 dan sempat diangkat sebagai sekretaris jenderal serta Ketua II Badan Pekerja (BP) LVRI.
Sebelumnya, ia mendirikan organisasi Persatuan Bekas Anggota Tentara (Perbata) pada 1953, lalu dipilih menjadi Ketua Umum Persatuan Pejuang Islam Bekas Bersenjata Seluruh Indonesia (1954). Pada masa Orde Baru, Sholeh Iskandar menolak untuk diangkat sebagai menteri urusan veteran. Menurut Sholeh, ia tidak mencari jabatan. Ia hanya ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat.
Mayor Sholeh Iskandar juga sempat ditunjuk sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Serikat Tani Islam Indonesia selama 18 tahun, yakni 1952-1970. Ia juga menjadi anggota Pimpinan Pusat (PP) Masyumi pada 1959-1960. Pada 1962-1966 Mayor Soleh Iskandar dipenjara lebih dari tiga tahun karena dituduh kontra dengan revolusi.
Pada masa Orde Baru, Mayor Soleh Iskandar dipenjara lagi karena dianggap dirinya memiliki kemampuan dan intergritas dalam memobilisasi kekuatan politik untuk menentang kesewenang-wenangan pemerintah. Tidak hanya dirinya, beberapa pegurus Partai Masyumi, yakni partai Islam terbesar di Indonesia dan dunia pada periode 1945-1960 juga terseret dalam masa pemerintahan Soeharto.
Berbagai sumber
Via
biografi

Posting Komentar