Telusuri
24 C
id
  • Redaksi
  • Profil
  • Privacy Policy
Pasundan
  • Beranda
  • Warta
    • Internasional
    • Teknologi
    • Daerah
    • Kabar Desa
  • Olahraga
  • Seni Budaya
    • Musik
    • Sejarah
    • Wisata
    • Kuliner
  • Misteri
  • Pendidikan
  • Opini
  • Komunitas
Telusuri
Beranda budaya literasi kisah secangkir kopi Opini pegiat literasi Syarifudin Yunus taman bacaan masyarakat TBM lentera pustaka warta Kisah Secangkir Kopi di Taman Bacaan
budaya literasi kisah secangkir kopi Opini pegiat literasi Syarifudin Yunus taman bacaan masyarakat TBM lentera pustaka warta

Kisah Secangkir Kopi di Taman Bacaan

Pasundan
Pasundan
25 Jun, 2021 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

 



Djava Pos - Ini kisah secangkir kopi di taman bacaan.Tentang bagaimana taman bacaan bisa menyetop putus sekolah anak atau pernikahan dini. Sebut saja si Randy. Siswa kelas 4 SD di Desa Sukajaya selalu rajin datang ke taman bacaan seminggu 3 kali. Sekalipun di wilayahnya angka putus sekolah tinggi, dia bertekad untuk tetap bisa terus sekolah. Apa pun yang terjadi. Begitu pula Mega, siswa SMK kelas 2 yang sudah dua tahun ini berada di taman bacaan. Suatu kali, dia terpaksa meminta “uang celengan” di taman bacaan untuk digunakan membayar SPP sekolah yang menunggak 4 bulan. Berjuang untuk tetap sekolah dan terhindar dari pernikahan dini. Kisah itu semua ada dan nyata ada di TBM Lentera Pustaka.
. 

Seperti di taman bacaan, pada secangkir kopi selalu ada pelajaran hidup. Bisa cerita manis, bisa pula pahit. Seperti kopi, hidup itu tidak selalu manis. Kadang pun pahit. Tapi hebatnya, bersama secangkir kopi,  siapa pun selalu bisa melewati semua keadaan. Karena memang, tidak ada duka yan tidak mampu dilewati. Setiap habis gelap pasti ada terang, seperti setelah malam pasti akan terbit pagi. 

Kisah secangkir kopi di taman bacaan. Membuat siapa pun sadar. 
Bahwa kopi, punya kelebihan tanpa perlu dibicarakan. Kopi juga punya kekurangan, tanpa perlu diperdebatkan. Sangat manusiawi, bila ada kelebihan pasti ada kekurangan. Siapa pun, bila punya sisi positif pasti punya sisi negatif. Jadi, rileks saja. Nikmatilah secangkir kopi di taman bacaan.

Secangkir kopi, bila di warung pasti dilayani. Saat pesan kopi pun, ada pelayan yang jutek atau galak. Ada pelayan yang santun dan menyenangkan. Semua itu tidak masalah. Rileks saja, dan tidak perlu gelisah. Di taman bacaan pun begitu, Ada yang julid, ada juga yang gosip. Tapi ada juga orang-orang baik yang membantu taman bacaan. Bahkan orang tua yag selalu datang mengantar anaknya membaca buku. Itu kisah nyata yang dialami di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. 

Secangkir kopi di taman bacaan. Menegaskan siapa pun harus punya sikap dalam hidup. Agar tidak terpengaruh, tidak terombang-ambing pada hal-hal yang tidak produktif. Apalagi hanya banyak cingcong tanpa punya kesalehan sosial. Saleh ritual itu tidak cukup, bila tidak diikuti manfaat yang besar untuk umat. Kisah secangkir kopi di taman bacaan, ingin menegaskan bahwa di dunia ini hanya ada dua tipe manusia:
1. Manusia yang reaksinya negatif. Pikirannya jahat, sikapnya aneh, omongannya negatif, bahkan terlalu mudah memfitnah dan membenci atas alasan yang tidak jelas. Manusia yang suuzon alias berprasngka buruk. 
2. Manusia yang reaksinya positif. Pikirannya keren, sikapnya bijaksana, omongannya positif, bahkan ringan tangan untuk membantu tanpa bisa membenci. Manusia yang husnuzon aluas berprasangka baik. 

Kisah secangkir kopi di taman bacaan. Bahwa siapa pun tidak akan pernah bisa mengontrol pikiran dan perilaku orang lain. Di taman bacaan, secangkir kopi menegaskan siapa pun hanya hanya bisa mengontrol dirinya sendiri. Seperti secangkir kopi, gerakan literasi itu yang penting "substansi" bukan "reaksi". Karena pada secangkir kopi, tidak boleh ada orang lain yang ikut menentukan cara kita dalam bertindak.

Seperti di taman bacaan. Kopi itu nikmat bukan hanya aromanya. Tapi juga suasananya. Dan kopi tidak pernah memilih siapa yang layak menikmatinya. Karena di hadapan kopi kita semua sama. Di taman bacaan pun semua sama, hanya untuk membaca buku dan mengasah kreativitas berpikir. 

Kisah secangkir kopi. Di taman bacaan, siapa pun hanya bisa melakukan perbuatan baik. 
Dan untuk itu, tidak dibutuhkan perhitungan. Karena matematika manusia tidak bisa disamakan dengan matematika Tuhan dalam kebaikan. Perbuatan baik itu dilakukan, bukan dibicarakan. Berbuat baik semata-mata karena Tuhan menyukai perbuatan baik itu sendiri. Dan lupakan apa yang sudah kita perbuat, biar hati tenang dan biar Tuhan yang mengurus selebihnya. 

Maka, nikmatilah secangkir kopi di taman bacaan. Agar semuanya tetap baik. Dan yang paling penting, tidak usah menunggu untuk jadi orang baik. Tidak usah pula terburu-buru dalam menjalani sesuatu. Tapi nikmati saja apa adanya, seperti kita meneguk secangkir kopi. Salam literasi.

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Via budaya literasi
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Tentang Kami

Foto saya
Pasundan
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Tetap Terhubung

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Fanpage Kami

Artikel Unggulan

Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

Pasundan- September 10, 2026 0
Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September
Jakarta, Pasundan – Vertu dan Yello Hotel Harmoni Jakarta menghadirkan Wedding Open House bertajuk “A Love Story in Harmony” pada Minggu, 13 September 2026. Ac…

Populer

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

September 07, 2026
Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

September 05, 2026
Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

September 10, 2026

Komentar

Follow Us On Instagram @pakuanpos

Posting Editor

Gunungan Diciptakan Oleh Sunan Kalijaga pada Tahun 1443 Saka

Gunungan Diciptakan Oleh Sunan Kalijaga pada Tahun 1443 Saka

Desember 11, 2020
Ruwatan atau Ngaruat dalam Bahasa Sunda, Kebiasaan yang Bermakna sangat Dalam

Ruwatan atau Ngaruat dalam Bahasa Sunda, Kebiasaan yang Bermakna sangat Dalam

April 11, 2021
Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor

Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor

Desember 15, 2020

Populer

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

September 07, 2026
Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

September 05, 2026
Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

September 10, 2026
00:00:00
Memuat tanggal...
Pasundan

Tentang Kami

Mengabarkan kebenaran dengan hati, menyorot fakta dengan nalar. Independen, jujur, dan setia pada pembaca.

Contact us: pasundanbogorkota@gmail.com

Follow Kami

© Pasundan by Xevdesign
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us