sasakala
satu Suro
tradisi budaya
upacara mawas diri
Malam Satu Suro, Tradisi yang Dimaknai sebagai Mawas Diri
Djava Pos - Satu Suro adalah hari pertama di kalender Jawa di bulan, Sura atau Suro dirayakan setelah Magrib. Ini merupakan penanggalan Jawa yang dihitung berdasarkan penggabungan kalender Islam, Masehi, dan Hindu. Seperti sistem perhitungan mingguan atau 7 harian, pasaran yakni 5 harian, dan siklus windu - sewindu adalah 8 tahun.
Nah, pada urutan tahun Jawa ke-8 atau jim awal, jatuhnya di tanggal 1 Suro dan biasanya satu hari lebih lambat dengan 1 Muharam dalam kalender Islam. Malam 1 Suro biasanya diperingati di malam hari setelah Magrib pada hari sebelum tanggal satu.
Hal tersebut dilakukan karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam, bukan pada tengah malam.
Perayaan Malam 1 Suro, Karena malam 1 Suro sangat lekat dengan budaya Jawa jadi biasanya terdapat ritual tradisi iring-iringan rombongan masyarakat atau kirab.
Beberapa daerah di Jawa biasanya melangsungkan perayaan malam 1 Suro, seperti di Solo, jogja dan yang lainnya. Di Solo, terdapat hewan khas yang disebut kebo (kerbau) bule yang menjadi salah satu daya tarik warga untuk menyaksikan perayaan malam 1 Suro.
Konon kerbau ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Bahkan ada kebo bule keturunan Kyai Slamet yang dianggap pusaka penting milik keraton.
Nah, di Yogyakarta, perayaan malam 1 Suro biasanya identik dengan membawa keris dan benda pusaka sebagai bagian dari iring-iringan kirab.
Abdi dalem keraton, hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng, serta benda pusaka menjadi sajian khas dalam kirab malam 1 Suro ini. Selain dirayakan secara besar-besaran, malam 1 Suro juga menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan.
Oleh karena itu, pada malam 1 Suro biasanya diselingi ritual pembacaan doa dari semua umat yang merayakannya.
Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.
Tradisi Malam 1 Suro, Tradisi saat malam 1 Suro bermacam-macam, tergantung daerahnya. Di beberapa daerah ada yang melakukan Tapa Bisu atau mengunci mulut tanpa mengeluarkan kata-kata selama ritual malam 1 Suro.
Tradisi tersebut dimaknai sebagai upacara mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakukan selama setahun penuh, dan sebagai simbol untuk siap menghadapi tahun baru. Nah, itu dia sejarah peringatan malam 1 Suro yang masih dilestarikan hingga saat ini. (*)
Via
sasakala

Posting Komentar