Telusuri
24 C
id
  • Redaksi
  • Profil
  • Privacy Policy
Pasundan
  • Beranda
  • Warta
    • Internasional
    • Teknologi
    • Daerah
    • Kabar Desa
  • Olahraga
  • Seni Budaya
    • Musik
    • Sejarah
    • Wisata
    • Kuliner
  • Misteri
  • Pendidikan
  • Opini
  • Komunitas
Telusuri
Beranda gerakan literasi Opini Syarifudin Yunus taman bacaan masyarakat Tamansari Bogor TBM lentera pustaka warta Gerakan Literasi Dipinggirkan atau Terpinggirkan?
gerakan literasi Opini Syarifudin Yunus taman bacaan masyarakat Tamansari Bogor TBM lentera pustaka warta

Gerakan Literasi Dipinggirkan atau Terpinggirkan?

Pasundan
Pasundan
07 Sep, 2021 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Bogor, Djava Pos - Katanya, orang Indonesia malas baca tapi cerewet di media sosial. Meski minat baca buku rendah tapi menurut WeareSocial (2017) mengungkap orang Indonesia mampu menatap layar gawai 9 jam sehari. Tidak heran, cerewet-nya orang Indonesia di medsos juara ke-5 di dunia. Apalagi Jakarta mampu mengalahkan Tokyo dan New York.

Sementara tiap tahun, Hari Aksara Internasional pada 8 September selalu dirayakan. Tentu dengan berbagai cara. Sebagai momentum untuk mengingatkan pentingnya literasi dan memajukan agenda keaksaraan.  Untuk mewujudkan masyarakat yang literat.  Apa bisa?
 
Sementara faktanya UNESCO menyebutkan Indonesia berada di uurutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Akibat minat baca-nya sangat rendah atau sangat memprihatinkan. Hanya 0,001% atau hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca. Lain lagi, riset World’s Most Literate Nations Ranked (2016) menyatakan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). 

Sementara diskursus tentang literasi dan agendanya terus menggeliat di Indonesia. Berbagai seminar, diskusi, hingga festival literasi ada di mana-mana. Semua kalangan pun “berebut tempat” soal literasi. Euforia literasi begitu bergejolak. Data, riset, dan program meningkatkan literasi boleh jadi berhamburan. Taman bacaan di mana-mana, perpustakaan ke mana-mana, komunitas literasi pun ada di mana-aman. Tapi mungkin, masih berjalan sendiri-sendiri. Cari panggung sendiri. Hingga bingung, literasi harus mulai dari mana? Siapa yang eksekusi? Dan bagaimana hasilnya?

Sebagai pengelola taman bacaan, maka jelang Hari Aksara Internasional, saya pun membuat catatan kritis. Sebagai refleksi dan aspirasi. Tentu untuk diri saya sendiri dan para pihak yang tersadarkan. Karena literasi sejatinya dimulai dari diri sendiri. 

Bisa jadi, literasi atau taman bacaan hari ini telah “dipinggirkan atau terpinggirkan”. Bila kata “pinggir” berarti tepi atau sisi. Maka “dipinggirkan” berarti menjadikan ke pinggir, menepikan. Sementara “terpinggirkan” berarti sudah dipinggirkan atau disisihkan dari. Bolehlah “dipinggirkan” dimaknai ada kesengajaan untuk dikenai tindakan ke pinggir. Sedangakn “terpinggirkan” terjadi akibat perbuatan yang tidak disengaja. Mungkin karena kurangnya perhatian atau keseriusan. Tentu, siapa pun boleh setuju dan boleh tidak setuju akan hal ini.

Lalu, siapa subjek yang harusnya bertindak sebagai pelaku literasi?
Secara normatif, tentu siapa saja boleh terlibat. Tapi bila mau jujur, literasi akan berjalan efektif dan berdampak bila masing-masing mengambil peran sesuai kapasitasnya. Ada yang bertindak sebagai penyedia buku, ada yang mengelola, ada yang menjadi relawan atau pelaksana program, ada yang bertindak sebagai penyandang dana, bahkan ada yang membuat kebijakan. Begitulah semestinya agar literasi dan taman bacaan tidak terpinggirkan. 

Sejujurnya, rendahnya literasi di Indonesia bukanlah persoalan baru. Sudah jadi diskursus tiap tahun. Apalagi di Hari Aksara Internasional. Persoalan literasi pun bukan hanya soal minat baca. Tapi terkait erat dengan akses. Inilah tantangan dan tanggung jawab bersama untuk mengatasi masalah literasi. Baik soal sarana prasarana, buku, anak, kultur sosial, koporasi, regulator dan eksekutor para pegiat literasi. Kata kuncinya, literasi adalah kolaborasi sesuai peran masing-masing dalam satu komando. Jujur, kolaborasi satu komando itulah yang tidak ada di negeri ini. 

Persoalan literasi, persoalan taman bacaan. Mungkin banyak pihak sudah tahu “titik masalahnya”. Hanya saja ada persoalan psikologis dan kultural historis yang menghadang, yaitu “ketidakpedulian”. Semakin tidak peduli, maka tidak ada obat untuk meningkatkan minat baca. Bila tidak peduli, maka tidak ada ketersediaan akses bacaan yang  masif. Belum diakui kegagalan di level itu, kini ramai-ramai beranjak mengusung “literasi digital”. Literasi, akhirnya seakan menempuh jalan yang sama dengan topik yang berbeda. Dari literasi manual berupa buku-buku menuju literasi digital berupa e-book dan sebagainya. Di situlah, literasi kian terpinggirkan.

Maka di Hari Aksara Internasional, inilah momentum untuk refleksi bersama. Merenungkan tentang perjuangan dan pengorbanan untuk literasi. Sudah sesuai dengan track-nya atau belum? Apa yang harus dibenahi? Dan apa pula yang harus ditingkatkan? Semua itu pertanyaan yang harus dijawa sesegera mungkin. Agar literasi dan taman bacaan tidak makin kehilangan arah. Tidak lagi jadi “jalan sunyi” yang tidak dipedulikan.

Dan terakhir lagi paling penting, literasi sejatinya dimulai dari diri sendiri. Lalu ditebarkan sebagai gerakan bermanfaat untuk orang banyak. Karena tidak ada masyarakat literat tanpa individu yang literasi. Itulah “titik terang” gerakan literasi. Salam literasi.

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Via gerakan literasi
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Tentang Kami

Foto saya
Pasundan
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Tetap Terhubung

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Fanpage Kami

Artikel Unggulan

Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

Pasundan- September 10, 2026 0
Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September
Jakarta, Pasundan – Vertu dan Yello Hotel Harmoni Jakarta menghadirkan Wedding Open House bertajuk “A Love Story in Harmony” pada Minggu, 13 September 2026. Ac…

Populer

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

September 07, 2026
Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

September 05, 2026
Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

September 10, 2026

Komentar

Follow Us On Instagram @pakuanpos

Posting Editor

Gunungan Diciptakan Oleh Sunan Kalijaga pada Tahun 1443 Saka

Gunungan Diciptakan Oleh Sunan Kalijaga pada Tahun 1443 Saka

Desember 11, 2020
Ruwatan atau Ngaruat dalam Bahasa Sunda, Kebiasaan yang Bermakna sangat Dalam

Ruwatan atau Ngaruat dalam Bahasa Sunda, Kebiasaan yang Bermakna sangat Dalam

April 11, 2021
Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor

Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor

Desember 15, 2020

Populer

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

September 07, 2026
Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

September 05, 2026
Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

Vertu & Yello Harmoni Jakarta Gelar Wedding Open House 13 September

September 10, 2026
00:00:00
Memuat tanggal...
Pasundan

Tentang Kami

Mengabarkan kebenaran dengan hati, menyorot fakta dengan nalar. Independen, jujur, dan setia pada pembaca.

Contact us: pasundanbogorkota@gmail.com

Follow Kami

© Pasundan by Xevdesign
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us