Telusuri
24 C
id
  • Redaksi
  • Profil
  • Privacy Policy
Pasundan
  • Beranda
  • Warta
    • Internasional
    • Teknologi
    • Daerah
    • Kabar Desa
  • Olahraga
  • Seni Budaya
    • Musik
    • Sejarah
    • Wisata
    • Kuliner
  • Misteri
  • Pendidikan
  • Opini
  • Komunitas
Telusuri
Beranda budaya literasi filosofi singkong Opini pegiat literasi rendah hati Syarifudin Yunus taman bacaan TBM lentera pustaka Bogor warta Filosofi Singkong, Setinggi Apapun Tetap Rendah Hati
budaya literasi filosofi singkong Opini pegiat literasi rendah hati Syarifudin Yunus taman bacaan TBM lentera pustaka Bogor warta

Filosofi Singkong, Setinggi Apapun Tetap Rendah Hati

Pasundan
Pasundan
26 Mar, 2021 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

 



Djava pos - Singkong, nama kerennya itu manihot utilissima. Tapi hari ini, mungkin banyak orang tidak suka singkong. Karena dianggap makanannya orang miskin. Panganannya kaum alit, bukan kaum elit. Padahal hampir di semua swalayan. Ada jajanan yang dikemas bagus, dibumbui enak. Ehh, ternyata terbuat dari singkong. Walau enak itu relatif ya. 

Lebih dari itu. Bisa jadi, singkong itu pohon yang hidupnya tidak ribet. Tetap tumbuh di tanah bawah atau di tanah kering. Bisa ditanam di mana saja, tanpa perlu pupuk sekalipun. Dalam keadaan apa pun, singkong tidak baperan, tidak mudah galau. Hebatnya lagi, semua bagian pohonnya berguna. Daunnya buat lalapan atau sayur. Batangnya dibikin pagar. Buahnya pun enak. Simpel dan alami, singkong tetap tumbuh, tanpa direkayasa. 

Singkong itu pun literasi. Saat pohonnya tumbuh menjulang tinggi. Tapi bagian yang membesar tetap ada di bawahnya. Justru akar yang jadi buahnya. Berbeda dengan manusia.  Karena tidak sedikit manusia yang makin menjulang pangkat dan jabatannya. Justru makin menjauh dari akarnya. Makin lupa diri dari  mana dia berasal?

Hidup pun harusnya seperti singkong. Siapa pun saat meninggi atau menjulang pangkat, jabatan, harta atau status sosial. Tapi manfaatnya tetap terasa sampai ke bawah, ke orang-orang yang membutuhkan. Seperti di taman bacaan, apa pun keadaannya. Tetap komitmen membangun tradisi baca kepada anak-anak yang tidak punya akses bacaan. 

Mungkin, Sebagian kita tidak suka ngemil singkong. Karena kalah bonafid daripada roti atau pizza. Tapi ketahuilah, singkong tetap apa adanya bukan ada apanya. Singkong sederhana. Bila doyan silakan kunyah. Bila tidak pun, jangan dikunyah. Selain tidak suka merekayasa diri, singkong sama sekali tidak gemar gagah-gagahan. Karena dunia itu sementara. Diserang pandemi Covid-19, dunia itu sudah kalang kabut. Lalu, apa yang mau digagahin? Apa yang mau disombongkan?

Maka agak kontradiksi. Bila ada yang pengen hidup sederhana. Tapi mereka tidak suka singkong. Bila ingin dibilang benar. Tapi maynya menyalahkan orang lain. Hidup di zaman canggih, di era digital. Tapi apa yang diucap dengan apa yang dikerjakan, justru makin berbeda?

Singkong, itu gurunya hidup sederhana. Nrimo ing pandum atau menerima segala pemberian dan segala keadaan. Istilahnya tetap qona’ah alias apa adanya. Agar hidup lebih acceptable, berterima di segala ruang dan waktu. Tanpa gengsi tanpa frustrasi. 

Seperti singkong, mau setinggi apapun pohonnya. Dia tetap rendah hati, tetap tidak mau menampakkan buahnya. Salam literasi.

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Via budaya literasi
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Tentang Kami

Foto saya
Pasundan
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Tetap Terhubung

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Fanpage Kami

Artikel Unggulan

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

Pasundan- September 07, 2026 0
10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes
Sukabumi, Pasundan - Kepala Desa Makasari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Rina Nuraeni, S.ST., M.Kes turun langsung menyerahkan bantuan Alat P…

Populer

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

September 07, 2026
Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

September 05, 2026
Nuansa Merah Putih, Perlombaan Agustusan Ramaikan HUT RI ke-81 di Desa Ciawi

Nuansa Merah Putih, Perlombaan Agustusan Ramaikan HUT RI ke-81 di Desa Ciawi

Agustus 17, 2026

Komentar

Follow Us On Instagram @pakuanpos

Posting Editor

Gunungan Diciptakan Oleh Sunan Kalijaga pada Tahun 1443 Saka

Gunungan Diciptakan Oleh Sunan Kalijaga pada Tahun 1443 Saka

Desember 11, 2020
Ruwatan atau Ngaruat dalam Bahasa Sunda, Kebiasaan yang Bermakna sangat Dalam

Ruwatan atau Ngaruat dalam Bahasa Sunda, Kebiasaan yang Bermakna sangat Dalam

April 11, 2021
Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor

Biografi KH Sholeh Iskandar, Ulama dan Pejuang Bogor

Desember 15, 2020

Populer

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

10 Lembaga PAUD di Desa Makasari Terima Bantuan APE Luar dari Pemdes

September 07, 2026
Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka PUI, Kapolri Ajak Rawat Persatuan dan Kesatuan

September 05, 2026
Nuansa Merah Putih, Perlombaan Agustusan Ramaikan HUT RI ke-81 di Desa Ciawi

Nuansa Merah Putih, Perlombaan Agustusan Ramaikan HUT RI ke-81 di Desa Ciawi

Agustus 17, 2026
00:00:00
Memuat tanggal...
Pasundan

Tentang Kami

Mengabarkan kebenaran dengan hati, menyorot fakta dengan nalar. Independen, jujur, dan setia pada pembaca.

Contact us: pasundanbogorkota@gmail.com

Follow Kami

© Pasundan by Xevdesign
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us