Donal Devi amdanata
kasultanan
sejarah
Sultan Siak
Sultan terakhir
Sultan Terakhir
Djava pos - Seringkali kita mendengar bahwa Sultan Siak ke 12 atau lebih dikenal dengan nama Sultan Syarif Kasim II telah menyumbangkan seluruh harta kekayaannya sebesar 13 juta gulden ke pemerintah NKRI beberapa waktu setelah Indonesia merdeka. Tetapi kita luput mengetahui bahwa peristiwa bersejarah itu terjadi pada bulan Oktober tahun 1949, tepatnya 71 tahun yang lalu.
Peristiwa bermula ketika Sultan mendengar kabar tentang kemerdekaan RI. Pada Januari 1946, Sultan pergi ke menjumpai Gubernur Sumatera Tengah untuk membicarakan bagaimana follow-up penyerahan atau bergabungnya Kesultanan Siak ke pangkuan RI. Akan tetapi, pada Maret 1946, terjadilah Revolusi Sosial di Sumatera Timur. Terjadi pembantaian terhadap keluarga-keluarga Kesultanan Melayu di pesisir timur Sumatera oleh sebab adanya dugaan bahwa kesultanan-kesultanan Melayu tersebut tetap ingin mempertahankan feodalisme atau sistem Kesultanan.
Sebagai catatan, setelah proklamasi Kemerdekaan RI, tidak semua kerajaan-kerajaan yang masih berdaulat pada masa memutuskan bergabung ke RI. Sebagian masih mempertanyakan bagaimana status mereka jika kesultanan-kesultanan itu bergabung ke RI. Menurut sumber-sumber yang lain pula, ada beberapa opsi yang dimiliki Kesultanan-Kesultanan Melayu pada saat itu, seperti berdiri sebagai negara tersendiri, begabung dengan Kesultanan-Kesultanan Melayu di Semenanjung Malaya atau bergabung ke RI.
Dalam tulisan saya sebelumnya, corak perjuangan kemerdekaan di Indonesia dan Malaysia memiliki beberapa kesamaan, yaitu perjuangan terbagi menjadi beberapa kelompok besar, seperti kaum nasionalis, Islamis, Komunis dan Bangsawan. Nah, menurut hemat saya perjuangan di Indonesia lebih di dominasi oleh Nasionalis dan Islamis, sedangkan Komunis dan Bangsawan tidak begitu mendominasi. Sedangkan perjuangan kemerdekaan di Malaysia lebih didominasi oleh golongan Bangsawan dan Islamis, sedangkan Nasionalis dan Komunis perannya lebih sedikit. Oleh sebab itu, corak pemerintahan di masing-masing negara menjad berbeda, dimana Indonesia menjadi sebuah negara Republik dan di Malaysia lebih kepada bentuk Kerajaan.
Menurut saya, kecondongan Kesultanan-Kesultanan Melayu Sumatera Timur lebih kepada mempertahankan Kesultanan dibanding bergabung ke NKRI. Menurut catatan, Sultan Syarif Kasim II, termasuk aktif mengajak Sultan-Sultan Sumatera Timur untuk bergabung ke NKRI, sebab mereka semua masih dalam hubungan kekerabatan. Tapi mereka menolak. Menurut referensi yang saya baca di luar negeri (entah mengapa dalam negeri perihal Revolusi Sosial cukup sulit di dapatkan), tercatat juga bahwa kesultanan Sumatera Timur memiliki kecondongan untuk bergabung ke Kesultanan Melayu di Tanah Semenanjung, oleh sebab dekatnya kekerabatan antara Kesultanan-Kesultanan tersebut.
Nah, pada Maret 1946 tersebut, Sultan Syarif Kasim II juga sedang berada di wilayah Sumatera Timur atau Sumatera Utara sekarang, sebab selain memiliki agenda bertemu dengan Gubernur Sumatera Tengah, Sultan juga ingin menjemput anak angkat beliau, sebab situasi di Sumatera Timur itu betul-betul mencekam saat itu. Bahkan jika Sultan tidak mengantongi sepucuk surat dari Gubernur Sumatera, Tengku Muhammad Hasan yang menyatakan bahwa Sultan adalah pendukung NKRI, mungkin sejarah akan berbicara lain.
Pada tahun 1947, Sultan dan keluarga ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI di tanah Aceh. Barulah pada pada Oktober 1949, Sultan berkesempatan menyerahkan secara langsung kekayaan yang dia miliki kepada Pemerintah Republik Indonesia di Jogyakarta. Setelah keadaan Indonesia tenang, pada tahun 1950 Sultan menetap di Jakarta. Sebagai bentuk penghormatan, Sultan diangkat menjadi Penasihat Presiden Republik Indonesia. Tetapi, pada tahun 1950 itu juga (saat berusia 57 tahun) Sultan bercerai dengan Tengku Mahratu yang selama ini mendampinginya.
Pada tahun 1951, Sultan menikah dengan seorang perempuan bernama Syarifah Syifak dan akhirnya bercerai pada tahun 1956 (saat berusia 63 tahun). Pada usia tersebut Sultan sudah mulai sering sakit-sakitan. Dan akhirnya beliau menikah kembali pada tahun 1956 tersebut dengan seorang janda beranak dua.
Pada tahun 1963 (saat berusia 70 tahun), Sultan beserta Istri dan kedua anak tirinya pergi ke Singapura untuk menjumpai adik kandung Sultan (adik satu bapak lain emak) yang bernama Tengku Long Putih yang sejak lama sudah menetap di Singapura. Sultan menjumpai adiknya dalam rangka untuk menanyakan warisan ayah mereka untuk Sultan yang ada di Singapura. Tidak ada kejelasan informasi tentang pembicaraan antara dua adik beradik tersebut.
Adanya keinginan Sultan untuk merundingkan perkara warisan orang tua mereka dengan adiknya menunjukkan bahwa ekonomi Sultan pada saat itu sedang keadaan sulit. Akhirnya Sultan dikabarkan kembali ke Indonesia melalui jalur Pulau Belakang Padang, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan Singapura. Ditambah lagi pada tahun 1963 itu, Indonesia dan Malaysia sedang ada konflik, jadi bisa dibayangkan betapa beratnya rute perjalanan yang di tempuh oleh Sultan dan keluarganya pada saat itu. Kebetulan saya pernah menetap di Pulau Belakang Padang ini pada tahun 1980-an. Transportasi pada tahun 1980-an saja masyarakat hanya menggunakan perahu yang disebut boat pancung, apatah lagi jika pada tahun 1960-an.
Informasi kembalinya Sultan ke Riau ini didengar oleh Kaharudin Nasution, Gubernur Riau pada saat itu. Gubernur memerintahkan pejabat terkait untuk menjemput Sultan dan menghantar Sultan langsung menuju Siak Sri Indrapura. Akhirnya, pada sekitar tahun 1963-1964, Sultan kembali menjejakkan kakinya di tempat dia pernah memerintah dulu. Kurang lebih sudah 18 tahun Sultan meninggalkan Istana dan pusat pemerintahannya, yaitu dari tahun 1946 hingga tahun 1964. Usia Sultan pada saat itu adalah 71 tahun.
Pada tahun 1967 pada saat berusia 74 tahun, Sultan mulai mengalami sakit berat karena usianya yang sudah lanjut. Akhirnya pada 23 April 1968, Sultan Syarif Kasim II menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Caltex Rumbai. Jenazah Sultan akhirnya di bawa ke Siak Sri Indrapura untuk di makamkan, tepatnya di samping Masjid Sahabuddin, Masjid Kerajaan Siak. Meninggalnya Sultan Syarif Kasim II disambut haru seluruh rakyat Siak. Kerinduan rakyat Siak akan Sultan mereka yang pergi berjuang sejak tahun 1946, hanya terobati sejenak.
Atas jasa perjuangan Sultan Syarif Kasim II, Sultan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1998. Nama Sultan juga diabadikan sebagai menjadi bandara Internasional di Pekanbaru yaitu Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II dan nama sebuah Universitas Islam Negeri di Riau, yaitu UIN Sultan Syarif Kasim II. Sedangkan wilayah Siak Sri Indrapura mulai diangkat menjadi sebuah Kabupaten, sehingga pusat Pemerintahan Kesultanan Siak terakhir bisa berbenah dan menjadi pusat ekonomi yang cukup diperhitungkan saat ini.
Penghormatan warga Siak terhadap Sultan Syarif Kasim II masih bisa dirasakan hingga kini. Pada awal pembentukan Kabupaten Siak, saat kantor-kantor instansi pemkab Siak masih menyewa rumah-rumah masyarakat dan ruko-ruko, saya sering melihat foto Sultan Syarif Kasim II diletakkan berdampingan dengan foto-foto pejabat yang sedang memegang amanah pada saat itu. Untuk sekarang, saya tidak tahu, sebab sudah sekian lama tidak mengunjungi kantor-kantor pemkab Siak.
Semestinya pemerintah Pemkab Siak mulai melakukan hal lebih kreatif. Misalnya membuat sayembara penulisan novel tentang perjalanan hidup Sultan Syarif Kasim II. Tentu hal-hal seperti ini akan terus mengabadikan perjuangan Sultan Siak ke generasi yang akan datang. Sayembara-sayembara tersebut akan membuat penelitian tentang kehidupan Sultan akan di gali lebih dalam dan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Apatah lagi jika kehidupan perjuangan Sultan bisa diabadikan ke dalam sebuah filem, tentu memberikan makna yang mendalam bagi generasi muda di Riau, dan Siak khususnya.
Oleh: Donal Devi Amdanata

Posting Komentar